Tampilkan postingan dengan label ODOJ INSPIRING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ODOJ INSPIRING. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2016

SAMBUT RAMADHAN DENGAN SUKA CITA


          Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185)
          Rasulullah menyambut bulan Ramadhan penuh perasaan bahagian dan suka-cita. Beliau ingatkan para sahabat agar menyiapkan diri mereka untuk menyambut dan mengisinya dengan amal.
          Para sahabat dan salafus-shalih pun senantiasa menyambut bulan Ramadhan dengan bahagia dan persiapan mental dan spiritual. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an.
          Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam pertama bulan Ramadhan ia datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
          Orang yang bergembira dan penuh antusias serta suka cita dalam menyambut bulan Ramadhan. Karena baginya, bulan Ramadhan adalah kesempatan yang Allah anugerahkan kepada siapa yang dikehendaki untuk menambah bekal spiritual dan bertaubat dari semua dosa dan kesalahan. Ramadhan baginya adalah bulan bonus dimana Allah melipatgandakan pahala amal kebaikan. Maka segala sesuatunya dipersiapkan untuk menyambut dan mengisinya. Baik mental, ilmu, fisik, dan spiritual. Bahagia, karena di bulan terdapat janji dijauhkannya seseorang dari api neraka. Dan itu merupakan kemenangan yang membahagiakan.
          Ibnu Mas’ud Al-Ghifari menceritakan, Aku mendengar Rasulullah saw suatu hari menjelang Ramadhan  bersabda, “Andai para hamba mengetahui apa itu Ramadhan tentu umatku akan berharap agar sepanjang tahun itu Ramadhan.”
          Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang muttaqin.
          Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.
          Ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan dalam menyambut bulan mulia ini yakni Ramadhan
          Pertama, berdoa kepada Allah Swt, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Swt, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Swt.
          Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya'ban
          Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”
          Kempat, persiapan jiwa dan spiritual. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Saw.
          Kelima, persiapan dana (finansial). Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang  mengalokasikan dana untuk shadaqah, ianfaq serta memberi ifhtar selama bulan ini.
          Keenam, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik.
          Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Disamping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, seperti melakukan tarhib Ramadhan yaitu mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan mengenai puasa Ramadhan, adab-adab, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya.
          Marilah kita singsingkan lengan baju dan kencangkan ikat pinggang untuk menyambut jenak-jenak Ramadhan yang kian saat kian mendekat. Semoga kita disampaikan di bulan suci tersebut. Dan kita tidak tahu apakah Ramadhan kali ini kita mendapatinya. Juga kita tidak tahu apakah ketika mendapatinya ia menjadi Ramadhan yang terakhir bagi kita. Seperti tahun-tahun lalu.
          Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
          Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.


Kamis, 21 April 2016

KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN




Oleh: Roshiko, Lc

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ {5}

            “iqro” bacalah! Itulah kalimat pertama yang diterima oleh Rosulullah Muhammad saw dari robb semesta alam dengan perantara jibril dalam gua hiro. Peristiwa agung sebagai awal mula pengutusan Muhammad saw sebagai rosul terakhir untuk ummat akhir zaman, moment penting sebagai tanda bahwa beliau telah resmi sebagai utusan penyampai risalah tertinggi dari Allah kepada ummatnya. Wahyu pertama berupa perintah membaca ini adalahsebagai tanda bahwa membaca adalah sebuah aktifitas penting yang harus dilakukan oleh seluruh umat manusia, membaca adalah sebuah aktifitas yang tidak bisa dan tidak boleh ditinggalkan oleh manusia, karena dia adalah kunci peradaban, dari membaca lahirlah sebuah imperium besar yang berkuasa berabad-abad lamanya, mengalahkan imperium-imperium besar lainnya seperti romawi dan yunani, imperium besar itu bernama islam. Maka wahyu pertama ini sebagai indikasi kemajuan sebuah umat, jika belajar dari sejarah islam yang sangat memukau bagaimana islam menjadi kiblat ilmu pengetahuan, dimulai dari sebuah negeri yang tandus dan tidak memiliki peradaban apapun, masyarakat yang masih hidup dalam kejahiliyahan, masyarakat yang sebagian besar masih tidak bisa membaca dan menulis, dengan kekuatan wahyu inilah mereka bangkit dan menjadi sebuauh peradaban besar.

            Perang badar menjadi saksi perubahan tersebut, ketika peperangan telah usai dan banyaknya tawanan-tawanan perang, Rosulullah berfikir sangat cerdas, beliau memberikan pilihan kepada para tawanan yang ketika itu sudah mempunyai kemampuan membaca dan menulis apakah mau menebus dirinya dengan mengajarkan kaum muslim saat itu ataukah membayar tebusan sejumlah 4000 dirham, padahal jika diilhaat keadaan kaum muslim ketika itu muslim sedang dalam keadaan genting, membutuhkan rumah, membutuhkan harta, membutuhkan keamanan, dan segala kebutuhan dunia lainnya, namun rosulullah berfikir ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu belajar membaca dan menulis. Dan pilihan hari itu telah menentukan masa depan kaum muslimin, dengan pilihan itulah akhirnya ummat islam menjadi ummat yang sangat unggul hingga lahirlah banyak sekali disiplin ilmu dari bacaan mereka yang berupa al-qur’an. 

            Di dalam al-qur’an  kalimat “membaca” mayoritas berupa kalimat perintah, yaitu “bacalah”, maka membaca adalah sebuah keharusan yang mana tujuannya adalah supaya kita tahu, tahu apa kandungan yang sedang kita baca, begitupun dengan membaca al-qur’an, dengan membaca al-quran kita menjadi paham apa yang terkandung di dalamnya, karena al-qur’an adalah cahaya yang dengannya hilang semua kegelapan, al-qur’an adalah petunjuk yang dengannya manusia hidup dengan tuntunan kebanaran, al-qur’an adalah obat yang dengannya sirna segala kegelisahan dan kegundahan, al-qur’an adalah jawaban yang dengannya masalah-masalah menemukan solusinya, al-qur’an adalah pengingat hingga dengannya manusia selalu waspada. 

            Maka jika seorang muslim ingin mendapatkan petunjuk, ketenangan hati, pengingat, obat, dan jawaban atas segala permasalahan hidup, hendaknya ia mengkhususkan waktunya untuk membaca al-qur’an, karena sesungguhnya membaca al-qur’an mempunyai banyak sekali keutamaan, diantaranya: